Categories
Kultum Ramadhan

Kekuatan Berpikir Positif

Untuk memutus rantai penyebaran Covid-19, ibadah selama bulan Suci Ramadhan dilakukan di rumah, sampai dinyatakan bahwa wabah sudah berlalu oleh pihak berwenang. Nabi SAW-pun hanya beberapa hari saja jama’ah tarawih di masjid, selebihnya di rumah. https://update.unisayogya.ac.id/covid19/kekuatan-berpikir-positif dapat dibacakan oleh imam atau yang ditunjuk ketika jama’ah tarawih atau subuh di rumah. Daftar kultum: https://bit.ly/KultumRomadhon


*Kekuatan Berpikir Positif*
Oleh: Fitria Siswi Utami – Prodi Kebidanan Sarjana Terapan

Pernahkah anda berpikir beratnya beban yang dihadapi dalam hidup? Atau berpikir mungkinkah saya bisa mencapai suatu tujuan yang luar biasa dalam hidup saya? Bahkan lebih parahnya lagi adalah merasa putus asa dalam menghadapi suatu masalah dalam hidup kita.

Mari kita coba flash back kembali pada kondisi-kondisi di kala itu. Kenapa kita bisa memiliki persepsi dan berpikir sungguh berat masalah ini, kenapa terjadi pada diri saya, dan lain sebagainya.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, Allah Ta’ala berfirman

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِى بِى

Aku sesuai dengan persangkaan hamba pada-Ku” (Muttafaqun ‘alaih).

Hadits ini mengajarkan bagaimana seorang muslim harus huznuzhon pada Allah dan memiliki sikap roja‘ (harap) pada-Nya. Berdasar dari hadits tersebut, sungguh Allah memberikan tuntunan kepada kita untuk senantiasa berpikir positif, memiliki keyakinan bahwa kita bisa, kita mampu. Hal ini tentu diawali dulu dengan kita mau.

*Tips Berfikir Positif*

Ada tips yang bisa dilakukan ketika kita mulai merasa berat dengan suatu hal yang kita hadapi, yaitu berpikir positif bahwa kita berada pada situasi itu karena kita memang layak dan mampu untuk berada dalam posisi tersebut. Hal ini akan membuat otak kita untuk dapat tetap berpikir jernih sehingga mampu melihat resources yang ada pada diri kita maupun yang ada di sekitar kita.

Pada satu teori tentang konsep krisis, seseorang akan masuk dalam fase atau kondisi krisis ketika ia mengalami suatu kejadian yang tidak menyenangkan dan melihatnya sebagai suatu hal yang negatif. Dalam teori tersebut dijelaskan bahwa setelah melihat suatu kejadian sebagai suatu hal yang negatif maka otak akan terblokir dan kehilangan kemampuan untuk dapat berpikir secara maksimal. Segala hal yang dapat membantu mengangkat masalah tersebut bisa jadi tidak lagi terlihat dan kondisi krisis pun terjadi.

Dalam Q.S Al-Baqarah 2: 214 Allah Ta’ala berfirman:

أَمۡ حَسِبۡتُمۡ أَن تَدۡخُلُواْ ٱلۡجَنَّةَ وَلَمَّا يَأۡتِكُم مَّثَلُ ٱلَّذِينَ خَلَوۡاْ مِن قَبۡلِكُمۖ مَّسَّتۡهُمُ ٱلۡبَأۡسَآءُ وَٱلضَّرَّآءُ وَزُلۡزِلُواْ حَتَّىٰ يَقُولَ ٱلرَّسُولُ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَعَهُۥ مَتَىٰ نَصۡرُ ٱللَّهِۗ أَلَآ إِنَّ نَصۡرَ ٱللَّهِ قَرِيبٞ

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.(Q.S Al Baqarah 2:214)

Inti dari surat ini bahwa pertolongan itu datangnya dari Allah. Maka, mintalah pertolongan hanya kepada Allah. Dan sesungguhnya pertolongan Allah itu sungguh dekat. Sebagai makhluk Allah, kita akan dapat merasakan pertolongan Allah ketika kita berhusnudzon, berpikir positif, berupaya semaksimal mungkin memanfaatkan segala kemampuan yang ada dalam diri kita dan semua resources yang ada di sekitar kita, dan bertawakal.